Resensi Buku Cupu Manik Astagina

Resensi Buku
Eko Muryanto



Judul Buku                  : Cupu Manik Astagina
Pengarang                   : Ardian Kresna
Penerbit                       : DIVAPress
Tahun Terbit                : 2012
Tempat Terbit Buku    : Yogyakarta
Cetakan ke                  : Pertama
Tebal Halaman            : 454 halaman
Editor                          : Elis Widayanti
Deisain Sampul           : Ferdika
Ukuran Buku              : 14 cm x 20 cm

Sinopsis Buku
Buku berjudul Cupu Manik Astagina ini menceritakan tentang tragedi maha hebat pusaka pemberian Batara Surya kepada Dewi Indradi. Pusaka pemberian Batara Surya inilah yang dinamakan Cupu Manik Astagina, sebuah pusaka dewa yang tidak boleh dimiliki oleh sembarang orang, bahkan para dewa sekalipun. Kenapa demikian ? sebab cupu tersebut bukanlah sembarang cupu. Apabila cupu tersebut dibuka, di dalamnya terdapat cermin untuk melihat segala kejadian di bumi hingga langit tingkat ke tujuh.

Namun karena kelalaiannya, Dewi Indradi, sewaktu dia terlempar ke marcapada akibat kesalahan yang diperbuatnya, dan sewaktu diatak kunjung menemukan kekasihnya, yakni Batara Surya sendiri, dia menerima lamaran seorang resi sakti yang telah berhasil menyelamatkannya dari ancaman Prabu Gajendramuka (seorang raja raksasa yang jahat) yakni Resi Gutama.

Dewi Indradi pun akhirnya menikah dengan Resi Gutama yang merupakan putra mahkota Kerajaan Grastina. Dari pernikahan tersebut lahirlah tiga orang anak yakni, Dewi Anjani, Guwarsa dan Guwarsi.

Saat masih kecil, Dewi Anjani sangatlah rewel, sehingga akhirnya sang bunda Dewi Indradi memberikan Cupu Manik Astagina ini untuk menyenangkan hati putrinya. Hingga beranjak remaja Dewi Anjani selalu asyik dengan cupu tersebut.

Keasyikan Dewi Anjani ini ternyata membuat heran dan penasaran kedua adiknya yakni Guwarsa dan Guwarsi. Akhirnya, Guwarsa dan Guwarsi tahu kalau sang kakak sulung mereka memiliki cupu yang sangat menarik.

Dari sinilah awal mula tragedi maha hebat dalam keluarga Resi Gutama dimulai. Dan dari sini pulalah kisah lahirnya keangkara murkaan dalam dunia pewayangan dimulai hingga nantinya akan di akhiri dengan pembersihan dan penumpasan keangkaramurkaan oleh titisan Dewa Wisnu dalam cerita Kurawa dan Pandawa.

Adapun alur cerita Cupu Manik Astagina ini terbagi menjadi 13 bagian
  1. Gutama; Putra Mahkota yang gemar bertapa
  2. Cupu pambawa petaka
  3. Kutukan Cupu Manik Astagina
  4. Buah karma akibat ajaran terlarang
  5. Runtuhnya Negara Lokapala
  6. Rahwana menguji kesaktian para dewa
  7. Siasat para dewa
  8. Penyerbuan pasukan Gua Kiskenda
  9. Subali dan Sugriwa mengemban tugas kedewataan
  10. Anugrah kedewataan bagi Dewi Anjani
  11. Perseteruan dua saudara
  12. Perang saudara
  13. Hilangnya Aji Pancasona

Masing-masing bagian dalam cerita Cupu Manik Astagina ini memiliki pesan moral yang sangat dalam bagi kehidupan manusia.

Kelebihan Buku:
Buku ini sarat dengan pesan moral yang sangat tinggi, dan diceritakan dengan beberapa tahapan yang sangat menarik, sehingga mudah untuk memahami alur ceritanya.

Kekurangan Buku
Karena buku Cupu Manik Astagina ini merupakan buku cerita pewayangan, sehingga banyak istilah-istilah dalam bahasa pewayangan yang mungkin cukup sulit dipahami oleh pembaca.

Selain penggunakan istilah ada sedikit kesalahan cetak dalam buku ini yakni pengulangan halaman, yang seharusnya setelah halaman 144 adalah 145 di dalam buku ini berulang ke halaman 131.

Saran
Sebaiknya untuk pengulangan halaman ini segera diatasi, karena cukup membuat pembaca kehilangan konsentrasi sesaat.


Manfaat
Buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca, karena mangandung pesan moral kehidupan. Diantara pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah pesan untuk senantisa hidup rukun, adil dan bijaksana.

Hal Baru yang Menginspirasi
Banyak hal yang dapat kita jadikan inspirasi hidup dari buku Cupu Manik Astagina ini, diantaranya adalah manusia haruslah bisa mengendalikan hati dan fikirannya berlaku santun dan bijaksana, rendah hati jauhkan diri dari rasa iri, dengki, dan juga sombong.

Tindak Lanjut
Setelah membaca buku Cupu Manik Astagina ini kita hendaknya berlaku lebih bijaksana. Karena manusia sendiri tidak pernah luput dari kesalahan, dan selalu mengevaluasi diri.

Pandak, 22 Oktober 2017
OPS SD Gumulan


Eko Muryanto